www.dian-mandala.org

Bertobatlah dari Cara Hidup Kemunafikan



Oleh: Riaperdamaian Gowasa
(Mahasiswa STP DM Tingkat II – Katekese)
Yeh. 18:21-28; Mat. 5:20-26
Dalam bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel, menegaskan kepada kita bahwa jika orang fasik bertobat dari dosa yang telah dilakukannya dan sekaligus berpegang dalam keadilan serta kebenaran, ia pasti hidup atau tidak akan mati. Akan tetapi, jika orang benar melakukan kecurangan dan kekejian maka ia harus mati atas kecurangannya itu.
Injil hari ini, kita mendengar ucapan-ucapan Yesus bahwa jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari keagamaan ahli-ahli Taurat maka kalian tidak akan masuk dalam Kerajaan Sorga. Ingatkah kalian apa yang telah disabdakan oleh nenek moyang kita? Jangan membunuh, siapa yang membunuh harus dihukum dan barang siapa berkata kafir kepada saudaranya ia harus dibuang ke dalam api yang menyala-nyala. Oleh sebab itu, jika engkau memberi persembahanmu di atas mezbah tetapi engkau masih teringat kesalahan saudaramu, maka tinggalkanlah persembahanmu dan pergilah berdamai dengannya lalu kembalilah mempersembahkan persembahanmu.
Pada dasarnya, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat hanya taat pada adat istiadat dengan memperlihatkan tampilan luar yang nampak secara lahiriah. Tujuannya agar mereka disanjung, dipuji, dan dihormati oleh orang lain serta merasa diri lebih benar dalam menjalankan hukum Tuhan, tetapi mereka lebih cenderung menghakimi orang berdasarkan kebiasaan mereka. Seperti dalam Injil, kita mendengar dengan jelas bagaimana perkataan Yesus kepada orang banyak tentang cara hidup keagamaan orang Farisi.
Orang-orang Farisi memang dikenal hidup dalam kemunafikan dan kesombongan sehingga menyulitkan mereka untuk mengampuni sesama. Maka dengan tegas, Yesus mengatakan jika engkau memberi persembahanmu tetapi engkau masih teringat dengan kesalahan orang lain terhadapmu maka pergiberdamai dengannya terlebih dahulu. Sikap inilah yang mau ditekankan oleh Yesus yakni mengampuni, karena untuk apa kita memberi persembahan yang mewah dengan wajah yang saleh tetapi hati masih dikuasai dengan kedengkian, kebencian, kegelapan, kejahatan, dendam, amarah, dan kesembongan.
Dalam hidup sehari-hari, kita kerapkali tidak sadar bahwa lebih terfokus dan terpaku pada aturan atau hukum tanpa melihat isi, tujuan, makna, dan cinta kasih kepada sesama.Wujud yang dimaksud Yesus dengan aturan dan hukum yang sebenarnya adalah damaiterhadap diri sendiri dan orang lain melalui cinta kasih dan pengampunan. Disini titik puncaknya bahwa Yesus menghendaki pertobatan secara total dan utuh, begitu pula dalam Kitab Yehezkiel hari ini kita perlu bertobat, berpegang dalam keadilan dan kebenaran untuk memperoleh hidup abadi.Allah menghendaki supaya kita melepaskan gaya hidup lama dengan membuang sikap kemunafikan dan kembali pada hidup yang benar.
Kita sebagai mahasiswa yang dibentuk dan dididik hendaknya memperbaharui diri dan meningalkan segala cara hidup yang penuh kepura-puraan. Misalnya, setiap hari kita mendengarkan Sabda Tuhan tetapi tidak melakukannya, dan pergi keMisa setiap hari tetapi relasi kita terhadap sesama tidak baik di mana saling membenci, bermusuhan, memiliki ego yang tinggi, dan tidak saling menyapa. Oleh karena itu, melalui masa prapaskah ini kita semua diajak untuk dapat memperoleh sikap yang baru serta keluar dari sikap dan kebiasaan yang tidak baik untuk berserah diri secara total pada kehendak Allah.
Semoga Tuhan menolong kita!




Share this post :
 
Copyright © 2015-2018. Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting