www.dian-mandala.org

Di mana ada Kasih Setia maka di situ ada Pengampunan



Oleh: Ayulestari Gaurifa
(Mahasiswa STP DM Tingkat II – Kelas Pastoral)
Ul. 26:16-19; Mat. 5:43-48    
Pada tahun 1981, Paus Yohanes Paulus II ditembak oleh seorang pemuda bernama Mehmet Ali Agca asal Turki ketika mengendarai sebuah mobil terbuka di Lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan. Peluru tentu mengenai Paus Yohanes Paulus II sehingga ia dilarikan ke sebuah rumah sakit. Setelah ia mengalami kesembuhan, maka ia pun mengunjungi orang yang menembaknya itu di penjara dan segera memeluk, mengampuni, serta membebaskannya dari hukuman seumur hidup karena pemaafan dari Bapa Suci sendiri.
Bacaan pertama pada hari ini, diambil dari Kitab Ulangan yang mengisahkan tentang pemberitahuan hukum Taurat bahwa Tuhan Allah memerintahkan bangsa Israel sebagai umat pilihanNya untuk melakukan ketetapan dan peraturan, setia kepadaNya dengan segenap hati dan segenap jiwa, serta berpegang pada segala perintahNya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan dan menasihati kita untuk saling mengasihi dan mengampuni sesama. Mengasihi dan mengampuni berarti tidak menaruh dendam dan benci tetapi justru mendoakan mereka-mereka yang berbuat salah terhadap kita.
   Menjadi pribadi yang setia kepada Allah dan mengasihi serta mengampuni musuh memang bukan hal yang gampang. Mungkin kita untuk mengucapkan, tetapi kebanyakan dari kita gagal untuk melakukannya. Faktor utamanya bisa saja karena ketidakpercayaan, kebimbangan, atau mengalami berbagai cobaan dari dalam maupun dari luar diri kita. Untuk mengikis sedikit hambatan itu, kita perlu intropeksi diri dan mengoreksi diri seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa pada bacaan pertama bahwa ia mengajak kembali umat Israel untuk menyatakan kesetiaannya kepada Allah. Tuhan berjanji, bahwa Ia akan menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat kesayanganNya, bila mereka melakukan segala kehendak Tuhan. Demikian halnya mengampuni musuh, kita pasti berpikir berkali-kali untuk membuka pintu maaf bagi mereka. Bisa saja kita memiliki hati yang keras dan tertutup kepada lawan sehingga tidak lagi menunjukkan bahwa kita pribadi yang beriman dan setia kepada Sang Pengampun dan Pengasih itu.
Kasih merupakan inti dari pewartaan Yesus yang menggenapi seluruh hukum Taurat, karena di mana ada kasih setia maka di situ ada pengampunan. Yesus mengajarkan bahwa kasih tidak hanya ada di dalam hati tetapi harus diwujudnyatakan dalam tindakan seperti setia dalam tanggungjawab atau tugas yang telah dipercayakan kepada kita dan berani menegur sesama yang berbuat salah. Kasih itu tidak membeda-bedakan dan tidak mengucilkan pribadi yang lemah, terlantar, dan bahkan yang jahat sekalipun. Semua diperlakukan secara sama dan merata. Salah satu cara mewujudkan kasih ialah dengan mengampuni dan mendoakan mereka yang berbuat salah kepada kita. Dalam kisah Paus Yohanes Paulus II, telah memberi teladan iman dan kasih setia dalam hal mengampuni. K
Mengasihi sesama terutama orang-orang yang melukai kita, merupakan dasar utama bagi kita yang mengaku diri sebagai kaum beriman. Mengapa? Karena Allah sendiri telah lebih dulu mengasihi kita yang berpuncak dalam pribadi Kristus. Itulah bukti kesetiaan dan cinta Allah bagi kita umatNya yang tak luput dari dosa. Mengasihi berarti mendoakan mereka yang memusuhi kita supaya mereka bertobat. Pada masa prapaskah ini, kita dituntut untuk membaharui diri dengan setia kepada Allah Yang Pengasih dan Penyayang serta membangun dan memelihara kasih kepada sesama. Bahan refleksi untuk kita hari ini adalah apakah kita sudah menjadi pribadi yang setia kepada Tuhan dan pengampun bagi orang lain?
Tuhan memberkati!
Foto: Yustinus Yorbi Duha
Organis
Dirigen
Pembaca Injil
Pengkhotbah
Peserta Ibadat Pagi
Menerima Berkat Tuhan dari P. Frans Sinaga, Pr
Komentar Singkat kepada para Petugas Ibadat Pagi

Share this post :
 
Copyright © 2015-2018. Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting