www.dian-mandala.org

Tantangan Mengikuti Yesus



Oleh: Kristina Pasaribu
(Mahasiswa STP DM Tingkat II - Kelas Katekese)
Ul. 30:15-20; Luk. 9:22-25
 Dalam bacaan pertama, Kitab Ulangan menceritakan tentang pilihan yang diberikan Musa kepada umat Israel. Pilihan itu terdapat perintah, berkat, kutuk, dan seruan untuk taat mengasihi Tuhan, mendengarkan suaraNya, dan berpaut padaNya. Bacaan Injil hari ini, sama seperti bacaan pertama di mana Yesus memberikan pilihan kepada murid-muridNya. Setiap orang yang mau mengikut Yesus, harus memikul salib dan menyangkal dirinya. Yesus juga berkata barang siapa yang menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya dan barang siapa kehilangan nyawa karena Yesus, ia akan diselamatkan.
Sabda Yesus yang kita dengar hari ini, sangat menantang dan mungkin sangat ekstrem bagi kita. Yesus mengajak kita untuk menomorsatukan kehendak Allah bukan kesenangan diri sendiri. Dalam bacaan pertama, kita diajak mengasihi Tuhan. Sebagai tanda cinta dan kesetiaan kita kepada Tuhan; kita mengasihiNya, mendengarkan SabdaNya, dan berpaut padaNya. Dengan cara seperti itu, kita telah menyangkal diri kita demi kemuliaan Tuhan dan berani memikul salib kehidupan sehari-hari. Namun pada zaman sekarang, kita semakin dimanjakan oleh alat-alat teknologi yang canggih  sehingga segala sesuatu dapat diperoleh dengan mudah dan instan. Dengan kata lain, secara tidak sadar perkembangan zaman sudah membentuk mentalitas instan di dalam diri kita.
Injil hari ini, kita diajak untuk mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti Ia tidak menyediakan jalan pintas dan instan yang membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Sorga hanya dalam waktu satu hari. Dia mau agar kita menempuh jalan salib kehidupan dan mengikuti dia dengan setia. Memikul salib berarti menyatukan suka-duka hidup pada salib Yesus.
Santo Paulus meyakinkan kita bahwa Salib Kristus adalah sukacita dan kemuliaan kita, dan ia menulis dalam salah satu suratnya “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi mereka yang dipanggil baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah (1Kor. 1:23-24)” Ajakan Yesus ini sangat relevan dengan masa prapaskah yang sedang kita jalani. Kita bisa menyangkal diri dengan menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa atau kita menyangkal diri dengan memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Secara sederhana, menyangkal diri berarti meninggalkan sifat egosentris dan lebih memperhatikan kepentingan bersama.
Pada hari ini, kita juga memperingati Santo Klaudius de la Colombiere seorang imam yang saleh dan setia menjalankan devosi kepada Hati Yesus yang Mahakudus. Ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Di saat agama Katolik dilarang menyebarkan ajarannya, Santo Klaudius tetap yakin bahwa Yesus menyertainya dalam karyanya hingga ia dipenjara oleh pemerintah London. Namun 2 tahun kemudian, ia dibebaskan pemerintah perancis. Pembebasan itu adalah tanggapan yang Yesus berikan kepada Santo Klaudius, di mana ia telah menyangkal dirinya dan memikul salib kehidupan demi menyebarkan ajaran Yesus. Sama seperti bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan barang siapa mau mengikut aku dia harus menyangkal diri dan memikul salib.
Oleh karena itu, marilah kita meneladani hidup Santo Klaudius yang menyangkal dirinya demi Yesus. Kita juga sebagai calon Katekis, Guru Agama Katolik, dan Petugas Pastoral mari bersama-sama menghadapi tantangan dalam mengikuti Yesus dengan cara  melibatkan rahmat Allah sendiri, sehingga kita diperkenankan masuk ke dalam KerajaanNya yang penuh damai dan sukacita Sorgawi. Pertanyaan refleksi untuk kita yaitu “Are You Ready?”
Tuhan Yesus menolong kita. Amin!
Share this post :
 
Copyright © 2015-2018. Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting