www.dian-mandala.org

Kecemburuan Dan Ketidakpuasan Akan Menghalangi Berkat Tuhan



Oleh: Lidia Sarumaha
(Mahasiswa STP DM Tingkat II – Kelas Katekese)
Kej. 37:3-4,12-13; Mat. 21:33-43,45-46 
Sebuah kisah nyata, adalah seorang anak bernama Sinta. Sinta ini, anak satu-satunya dari kedua orang tuanya. Ketika ibunya Sinta sakit parah, ia berpesan kepada suaminya bahwa seandainya saya telah tiada tolong papa jangan menikah lagi, karena kalau papa menikah lagi Sinta akan menderita. Pada saat itu, ayah Sinta mendengar pesan sang istri dan bahkah ia mengiakan pesan istrinya. Tidak lama kemudian, ibunya Sinta meninggal dunia dan tentu Sinta sangat sedih atas peristiwa yang menimpanya itu.
Singkat cerita, ayah Sinta menikah dengan seorang perempuan yang mempunyai dua orang anak. Sang ayah membawa istri barunya bertepatan di hari ulang tahun Sinta. Di hari bahagia Sinta, ia merasa sedih sekali karena tidak bersama dengan ibunya dan ayahnya juga menikah lagi. Berjalannya waktu, ayah Sinta sering pergi ke luar kota. Apa yang terjadi? Sinta menderita karena kedua saudara dan ibu tirinya diperlakukan Sinta seperti pembantu. Tidak hanya itu, dari waktu ke waktu ibu tirinya berhasil membunuh ayah Sinta dan kemudian merampas semua harta waris dengan kelicikannya.
Dalam bacaan pertama hari ini, Kitab Kejadian mengisahkan tentang Yusuf dan saudara-saudaranya. Yusuf adalah anak kesayangan Yakub, sehingga saudara-saudara Yusuf yang lain tidak senang akan hal itu, Mereka membencinya, dan bahkan pada akhirnya Mereka menjual Yusuf. Injil hari ini, Yesus memberikan perumpamaan kepada kita tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Ketika hampir tiba musim panen, maka tuan tanah menyuruh hamba-hambanya sampai dengan anaknya sendiri untuk mengambil hasil yang menjadi bagian pemilik kebun anggur tersebut. Apa yang terjadi? Penggarap-penggarap yang sudah ia percayakan sebelumnya justru melakukan perlawanan terhadap hamba dan anaknya dengan memukul, melempari batu, dan bahkan Mereka bunuh.  
Penggarap kebun anggur adalah kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang selama ini merasa diri saleh, benar, dan suci. Pewaris kebun anggur adalah Allah yang telah mengutus para nabiNya hingga mengurbankan AnakNya yakni Yesus Kristus. Allah telah memberikan kesempatan kepada kaum Yahudi untuk terlibat dalam karya keselamatanNya. Kesempatan yang diberikan Allah justru Mereka tolak dengan keserakahan, ketidakpuasaan dari apa yang sudah diterima, serta dengan beraninya Mereka membunuh PutraNya sendiri. Maka, dari situ nanti Allah menghukum dan menghancurkan Mereka serta mengambil kembali Kerajaan Allah yang sudah dipercayakan kepada Mereka untuk diberikan kepada bangsa lain.
Perumpamaan tentang penggarap kebun anggur bukan hanya untuk kaum Yahudi, tetapi bagi Kita juga sebagai orang beriman. Kita harus menjaga tugas yang telah dipercayakan Tuhan kepada kita. Melalui tugas itu, Kita diberi kesempatan untuk merangkul banyak orang tanpa menyingkirkan siapa pun dengan sikap cemburu, iri, dan dengki. Dalam cerita Sinta, kisah Yusuf, dan penggarap-penggarap kebun anggur mengingatkan Kita untuk tidak memiliki hati yang cemburu. Kecemburuan akan mendatangkan ketidakpuasan diri sehingga dapat mencelakai dan bahkan menghilangkan nyawa orang lain seperti ibu tiri Sinta, saudara-saudara Yusuf, dan perlakuan-perlakuan penggarap.
Tanggung jawab yang Kita peroleh besar ataupun kecil merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Kita mensyukuri supaya tugas itu tidak disalahgunakan ke hal-hal yang kurang baik. Kita harus mampu menguasai dan mengontrol diri dengan menanggalkan sikap kecemburuan, ketidakpuasaan diri, keserakahan, dan sebagainya. Akan tetapi, dengan bersyukurlah dari anugerah Tuhan Kita akan mendapat bagian dari Kerajaan Allah yang dijanjikanNya pada Kita. Amin!
Foto: Tim HUMAS STP DM







Share this post :
 
Copyright © 2015-2018. Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting