www.dian-mandala.org

Pengampunan Tanpa Batas



Oleh: Hatimani Tafona’o
(Mahasiswa STP DM Tingkat II – Kelas Pastoral)
Dan. 3:25-30; Mat. 18:21-35
Pengampunan merupakan ungkapan yang sering muncul dalam teks Kitab Suci. Sesungguhnya, pengampunan sudah lebih dulu kita peroleh dari Allah karena Ia lah Maha Pengampun bagi umat manusia. Kita layak mendapat pengampunan dari Allah kalau kita mampu mengampuni atau memaafkan orang lain.
Bacaan pertama hari ini, dalam Kitab Daniel berkisah tentang doa ucapan syukur Azariah dan kedua temannya. Mereka disiksa dan dibakar dalam api karena mereka tidak mematuhi perintah raja serta tidak mau memuja dan menyembah Allah mana pun kecuali Allah mereka. Azariah dan kedua temannya adalah hamba-hamba Allah yang selalu taat dan setia kepadaNya. Mereka percaya bahwa hanya Allah yang dapat melindungi dan menyelamatkan mereka.
Bacaan Injil juga mengisahkan percakapan antara Petrus dan Yesus tentang pengampunan. Petrus bertanya Yesus: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Apakah hanya sampai tujuh kali? Yesus pun menjawab bahwa mengampuni siapa pun bukan hanya sampai tujuh kali melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Yesus dalam konteks ini, mau menegaskan kepada para murid bahwa harus mengampuni orang tanpa batas karena Yesus sendiri telah mengasihi kita.
Jika kita menghitung secara desimal, 70 x 7 memperoleh nilai 490 kali, tetapi yang dimaksudkan Yesus tidaklah demikian. Yesus bermaksud bahwa pengampunan bukan tentang perhitungan dengan jumlah banyaknya, melainkan sejauh mana kita mempunyai sikap hati yang diwarnai dengan pengertian yang mendalam untuk memaafkan sesama kita tanpa batas. Mengasihi dan mengampuni adalah tumbuh dari dalam hati manusia, dengan mempunyai hati yang murni, tulus, bersih, dan jujur. Dengan kata lain, kita mendengarkan suara hati yang dicahayai oleh Tuhan dan menjadi pribadi yang selalu penuh pengertian sehingga mudah untuk memaafkan sesama.
Dalam hidup sehari-hari, kerap kali kita susah mengampuni orang lain. Kita tidak sadar bahwa Allah kita adalah Allah Maha Pengampun, yang mengampuni kita tanpa batas. Supaya menjadi orang yang mudah mengampuni, maka kita dituntut untuk memiliki sikap rendah hati, sabar, mudah memaafkan serta tidak menyimpan dendam atas kesalahan orang lain terhadap kita. Kita perlu belajar dari Azariah dan teman-temannya yang tetap taat kepada Allah dengan tidak menaruh dendam karena perlakuan yang tidak baik dari orang lain. Melalui Injil, kita diajak untuk mampu mengampuni sesama yang bersalah kepada kita tanpa ada batasnya, karena hanya dengan demikian kita layak masuk dalam Kerajaan Allah.
Oleh karena itu, marilah kita saling berdamai kepada siapa pun yang telah berbuat salah kepada kita tanpa memperhitungkan berapa salah yang dibuat oleh sesama. Pada masa tobat ini, kita diajak untuk mewujudnyatakan pengampunan dari Allah terhadap orang lain. Sebagai pertanyaan refleksi untuk kita, mampukah kita mengampuni sesama tanpa ada batas dan syarat?
Semoga Tuhan menolong kita. Amin!

Foto: Tim HUMAS STP DM
Petugas liturgi

Dirigen
Pembaca

Pengkhotbah

Peserta

Share this post :
 
Copyright © 2015-2018. Sekolah Tinggi Pastoral Dian Mandala - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger - Posting